mazipan.xyz

Pelajaran dari membangun microsite untuk Tokopedia Anniversary

📆 August 29, 2019 • ☕️☕️ 15 min read • ❤️ 0 likes • 📓 0 read
📆 August 29, 2019 • ☕️☕️ 15 min read
❤️ 0 likes • 📓 0 read

*Disclaimer: Tulisan ini adalah pandangan pribadi saya, tanpa mewakili Tokopedia secara resmi. Semua pekerjaan di dalam artikel ini adalah hasil kerja tim, semua pujian saya sampaikan terhadap keseluruhan anggota tim yang terlibat. Artikel ini dibuat dengan tujuan pembelajaran bersama tanpa ada tujuan untuk menyudutkan pihak manapun

Pembukaan

Tokopedia baru saja berulang tahun ke-10, dan untuk merayakannya kami meyiapkan satu microsite untuk sebagai perantara menyampaikan pesan kepada para pengunjung setia kami. Kalian bisa melihat halaman tersebut di alamat https://www.tokopedia.com/ulang-tahun/ ↗️.

Pada artikel ini, saya akan bercerita dari sisi Engineering, terutama pelajaran yang kami dapatkan dari proses pembangunan microsite tersebut.

Kami percaya kalau hampir setiap lingkungan kerja itu unik, banyak hal yang bisa dengan mudah kita aplikasikan pada suatu lingkungan namun pada lingkungan lain malah serasa susah, sangat susah atau bahkan tidak mungkin untuk dilakukan (*paling tidak pada saat ini). Pelajaran selalu bisa diambil dari setiap fase, bukan hanya dari hal sukses bisa juga dari kegagalan yang telah kita lalui. Tidak perlu malu karena telah mengerjakan sesuatu dengan salah, tapi pastikan kita tidak akan mengulangi hal salah yang sama di masa yang akan datang.

Pun dalam proses membangun microsite kali ini. Bagi yang belum tau microsite, ini merupakan jenis website yang ringan dan memiliki alur logika yang sederhana. Microsite biasanya merupakan webuah website yang independen dan terlepas dari produk utama. Ini dilakukan agar bisa memaksimalkan tujuan utama dari microsite itu sendiri yang diharapkan agar bisa cepat diubah, cepat diperbaiki, cepat dibangun tanpa harus terkait dengan produk utama yang biasanya memiliki level kompleksitas yang lebih tinggi.

Dan mari kita bicarakan berbagai hal baik dan buruk yang bisa kita pelajari bersama-sama dari proses pembangunan microsite ini.

Penampakan

Sebelum membicarakan lebih lanjut, mungkin teman-teman perlu melihat sekilas tampilan dari microsite tersebut.

Tampilan Desktop Web

Desktop Web

Tampilan Mobile Web

Mobile Web

Timeline

Kami perlu berikan catatan sebelumnya dari sisi waktu pembangunan microsite ini, projek ini dibuat dengan mengikuti ilmu Sangkuriang dimana diminta dibangun dalam waktu satu sprint yang tidak lebih dari dua minggu termasuk segala ceremony persiapan deployment yang harus selesai dalam waktu tersebut. Hal ini karena tentu saja tanggal ulang tahun Tokopedia tidak mungkin diundur, yang harus bisa menyesuaikan adalah development time.

Permintaan Fancy UI

Setelah turun requirement dari tim produk, ternyata website yang akan dibangun merupakan microsite yang sangat-sangat fancy. Penuh dengan animasi menarik pada saat scroll down. Belum cukup microsite ini juga bertaburan gambar dan beberapa video dimana-mana, beberapa malah berada pada lokasi yang kritis yang akan memaksa pengguna untuk memuat di masa-masa awal. Ok, requirement sudah terlihat dan tidak bisa digoyang lagi soal kemauan membuat microsite yang super fancy ini.

Sebagai engineer, pilihan kita adalah banyak berdoa 😂 semoga microsite ini tidak akan menimbulkan kegaduhan dan bisa tetap bertahan dihajar traffic yang menggila nantinya.

Kebutuhan dari SRE

Selain kebutuhan dari tim produk, ada juga kebutuhan lain dari tim SRE dimana direncanakan bahwa microsite ini akan menerima traffic yang cukup tinggi terutama menjelang hari H dimana hampir semua platfom Tokopedia akan meletakan tautan ke microsite ini pada halaman beranda mereka.

Platform

Dipastikan bahwa microsite ini akan diakses lewat peramban baik desktop maupun mobile, sehingga dua jenis ini harus bisa bekerja sama baiknya. Menyusul adalah platfom Apps baik Android maupun iOS yang akan menampilkan microsite ini lewat WebView mereka.

Pemilihan Teknologi

Pada akhirnya engineer yang mengerjakan microsite ini memutuskan untuk menggunakan jQuery dibantu dengan pustaka ScrollMagic ↗️ dan GSAP - TweenMax ↗️ untuk membangun berbagai animasi interaksi ketika pengguna melakukan scroll down.

Tentu saja pemilihan jQuery bukanlah hal yang biasa di Tokopedia, dimana para engineer sudah terlalu #React dan pastinya susah untuk diminta melakukan coding di jQuery. Tapi melihat pada kebutuhan dan waktu yang dipunya, sepertinya tidak ada pilihan lain selain berharap pada kehebatan jQuery melakukan DOM manipulation.

Proses Pembangunan

Berbagai persiapan, monorepo dan rencana deployment

Maka dimulailah pengerjaan pembangunan microsite ini dengan dasar teknologi menggunakan jQuery. Sayangnya dengan technology stack seperti ini kami jadi tidak bisa menggunakan keuntungan development tools yang biasa kami gunakan sehari-hari, katakanlah sebelumnya kami terbiasa dimanjakan dengan kemampuan untuk deploy feature branch ke puluhan virtual machine tanpa perlu berebutan atau bergantian dengan engineer lain, yang sayangnya cara deployment seperti ini masih sangat couple dengan technology stack dan folder structuring pada monorepo utama kami. Kami juga jadi tidak bisa memanfaatkan berbagai kemampuan hebat webpack seperti melakukan hot reload pada saat development, mengerjakan kompresi pada berkas, menyatukan berbagai berkas, memberikan hash pada nama berkas, menyisipkan environment variable, serta banyak hal yang biasanya kami kerjakan namun sangat bergantung pada webpack.

Kami punya pilihan untuk mengerjakan sebagai microsite statis yang tinggal cemplung saja ke CDN ketika proses deployment, tapi setelah berkonsultasi dengan berbagai pihak yang lebih berkompetensi pada akhirnya pilihan sederhana seperti ini tidak jadi kami ambil dengan pertimbangan kami tidak ingin projek ini menjadi contoh buruk dan bisa dijadikan alasan di masa yang akan datang untuk melakukan deployment semau sendiri tanpa mengikuti kaidah dan kebiasaan kita. Pun melihat bahwa kami memang belum punya platform yang baik ketika membutuhkan projek-projek seperti ini, maka kami putuskan untuk membuat projek ini bisa lebih baik dibandingkan sekedar projek sekali pukul menjadi projek yang bisa menjadi platform bagi banyak microsite semacam ini kedepannya, sehingga diharapkan bila ada lagi projek serupa di masa depan, kami cukup mengikuti kaidah dan arsitektur yang sudah dibuatkan pada projek ini.

Mengingat kemampuan deployment branch fitur kami yang masih sangat couple dengan struktur monorepo yang ada, maka kami putuskan pada saat itu bahwa projek ini pun harus bisa melakukan hal yang sama agar engineer bisa lebih mudah melakukan deployment tanpa harus merging branch ke satu branch utama. Hal ini menjadikan kami menempatkan projek ini sebagai bagian dari repository monorepo kami.

Penggunaan CSS Pre-processor

Menggunakan jQuery memang bukanlah halangan untuk tidak menggunakan webpack, dengan pengalaman kami selama ini menggunakan webpack maka bukan hal yang begitu sulit untuk membuatkan konfigurasi webpack untuk projek yang bahkan berbasiskan jQuery. Di projek lain kami, hampir semuanya menggunakan Less sebagai CSS Pre-processor sehingga kami pun meminta engineer untuk melakukan konversi dari yang sebelumnya menggunakan SASS menjadi Less agar bisa seragam dengan kebiasaan kami.

Pemrosesan HTML dan Gambar

Hal berikutnya yang menjadi tantangan adalah pada image processing, jika pada projek React hal seperti mudah saja ditangani oleh webpack maka pada projek statis seperti ini menjadi tantangan tersendiri karena image yang ada tidak melalui entry point JavaScript yang kami sematkan pada webpack melainkan langsung disematkan pada file HTML. Menjadi semakin runyam karena kami menggunakan publicPath yang berbeda antara proses development dengan rencana di production nantinya, menggunakan static absolute path tentu bukan pilihan yang bisa diambil.

Untuk publicPath pada akhirnya bisa diselesaikan dengan mengirimkan parameter di HTMLWebpackPlugin ↗️ yang kami gunakan, sedangkan masalah image processing kami memutuskan untuk membuat WebpackPlugin sendiri khusus untuk menghandle projek ini. Plugin sederhana, hanya membaca semua image yang ada meskipun tidak melalui entry point JavaScript untuk kemudian di proses seperti pemberian hash pada nama file. Kami sempat juga mencoba menggunakan ImageWebpackLoader ↗️ pada hari-hari terakhir untuk melakukan kompresi otomatis yang sayangnya ternyata image hasil dari loader ini tidak bisa di render dengan baik oleh browser berbasiskan Safari (hal terakhir ini kita revert).

Menambahkan Node.js

Seperti kebanyakan projek kami yang lain yang menempatakan Node.JS di bagian paling depan sebagai pelayan bagi file HTML kami, projek inipun menempatkan Node.js sebagai pelayan utama dibagian depan. Sayangnya dengan cara ini, kita tidak bisa berharap kalau projek ini bisa bertahan dengan traffic yang tinggi, pun hal ini sudah terdeteksi pada saat Load Test dilakukan. Meskipun kami sebenarnya bisa menutup mata akan hal ini, karena pada dasarnya Server yang ada sudah bisa auto scale up dan auto scale down. Namun sebagai engineer kami harus memikirkan solusi yang lebih proper dibandingkan mengharapkan proses auto scale bisa berjalan lancar.

Prioritas Rendering

Hal menantang pada projek dengan banyak image dan video adalah penanganan dan prioritas loading berbagai assets. Bukan hal yang mudah memastikan asset-asset yang pertama kali di request hanyalah asset-asset yang benar-benar kritis dan benar-benar dibutuhkan. Kami harus berulang kali mengecek satu persatu assets yang diminta pada berbagai platform. Awalnya engineer attach pada scroll dan resize event untuk melakukan deteksi visibility sebuah element image (*tentu dengan cara-cara jQuery), hal ini sudah tidak relevan ketika kita bisa dengan percaya diri menggunakan IntersectionObserver di production, makanya kami memutuskan untuk membuat ulang cara deteksi visibility dari sebuah image menggunakan VanillaJS dan IntersectionObserver.

Pemanfaatan Cache

Kami memutuskan untuk menggunakan Cache secara agresif di beberapa level setelah dipertimbangkan soal tidak akan adanya perubahan lagi pada saat projek ini sudah di release nantinya. Di ALB kami menempatkan cache, di CDN kamipun memastikan semua sudah di cache, di Node.js kami juga menempatkan memory cache sehingga processing time bisa dipangkas ketika sebuah request masih sampai ke Node.js.

Pelacakan Aktivitas

Penyakit terakhir yang sampai pada hari H tidak berhasil disembuhkan adalah penggunaan third-party script yang tidak tepat guna. Kami menggunakan GTM sebagai pusat dari third-party tracking, yang ternyata ada banyak script yang ditanam di semua halaman termasuk halaman-halaman yang belum tentu membutuhkan spesifik script tersebut.

Service Worker

Desktop web Tokopedia belum memasang Service Worker dengan tujuan yang benar, sehingga ketika kita berharap ada cache juga di level client browser belum bisa terwujud dengan kondisi sekarang. Memasang Service Worker di root URL Tokopedia jelas terlalu beresiko. Karenanya kami memutuskan untuk memasang Service Worker hanya pada scope /ulang-tahun/. Masalah kemudian timbul karena ternyata path yang digunakan di awal-awal tidak memiliki slash penutup yakni /ulang-tahun sehingga scope Service Worker tidak pernah bisa ketemu dan gagal terpasang dengan benar. Setelah berdiskusi dengan tim SEO dan tim Infrastruktur maka dibolehkan untuk melakukan redirection pada path /ulang-tahun ke /ulang-tahun/. Dengan begini, Service Worker bisa terpasang tanpa peduli pengguna datang dengan URL yang pertama maupun kedua.

Untuk membuat Service Worker kami menggunakan Workbox ↗️ agar lebih mudah pada saat melakukan kontrol pada caching strategy sesuai yang kami harapkan. Terdapat sedikit galat pada kami mencoba melakukan caching pada file video yang berformat .webm maupun .mp4 di spesifik browser Safari, setelah ditelusuri ternyata hal ini memang galat yang sudah diketahui dan sudah ada solusinya, yakni dengan memasang pustaka workbox-range-requests ↗️ pada berkas Service Worker.

PR yang diketahui

  • Tidak melakukan dynamic image serving based on device, jadi kami masih menyajikan gambar dengan ukuran yang sama yang sama antara desktop dengan device mobile
  • Beberapa gambar masih ada di kritikal rendering path meskipun below the fold
  • Untuk device mobile iOS, kami melakukan switch-off pada fitur lazy loading image. Hal ini menyebabkan pengguna iOS akan butuh waktu lebih lama dalam memuat halaman tersebut

Beberapa pelajaran yang bisa diambil

  • Tidak semua website harus fancy, karena biasanya fancy website membutuhkan banyak DOM manipulation dan pilihan untuk ini biasanya berujung pada jQuery. Pastikan ada alasan yang jelas dan masuk akal soal permintaan membuat fancy website.
  • Setiap projek haruslah memiliki visi kedepan, seperti pada projek ini kami memproyeksikan sebagai platform untuk projek-projek lain serupa.
  • Tidak perlu malu menggunakan teknologi lama, selama bisa dipelihara dengan baik dan menyelesaikan masalah kalian.
  • Setiap keputusan dalam pemilihan teknologi selalu memiliki trade-off, pastikan kalian memahami baik dan buruknya.
  • Melakukan kesalahan bukanlah hal yang haram dalam startup yang memiliki hyper growth, pastikan kita belajar dari setiap kesalahan yang dialami.
  • GTM (Google Tag Manager) bisa jadi sangat powerfull, tapi bisa jadi beban besar ketika tidak dikelola dengan tepat guna.

Demikian artikel kali ini, semoga bermanfaat...



📧 Get the newsletter